Pada umumnya usia 23 tahun adalah usia untuk bekerja. Setelah menyelesaikan
masa study selama 4 tahun di bangku perkuliahan. Usia ini semua orang dituntut
untuk bisa hidup mandiri. Dimana sumber keuangan tidak boleh lagi dari orang
tua. Hidup tidak boleh lagi bergantung kepada siapapun. Harus susah sendiri. Tidak
menyusahkan orang lain.
Sedangkan mereka yang diluar daripada itu akan mendapat pandangan
yang negatif. Baik itu dari orang-orang yang mengenal. Juga keluarga inti yang
telah penuh ekspektasi kesuksesan bagi diri kita. Tidak memenuhi harapan itu
adalah sebuah kekecewaan bagi mereka. Atau bahkan kemarahan.
Dunia di luar kampus tergambar sangat horor. Orang biasanya
menyambut para sarjana dengan kata “selamat datang di dunia yang sesungguhnya”.
Tapi, memang itulah yang sesuangguhnya. Di luar sana, persaingan kerja sangat
keras, orang bisa bekerja tidak sesuai dengan spesifikasi studynya selama di
kampus, sarjana hanya jadi tukang ojek, sarjana jadi pengangguran, sarjana buka
usaha bisnis rumahan, hanya jadi honorer yang digaji 150 ribu perbualan. Itulah
yang mereka sebut horor.
Entah dimana posisi kita. Dan bagaimana saat ini hidup itu dijalani.
Yang jelas, pasca sarjana bukan lagi waktunya untuk tampil kece, instyle,
banyak waktu untuk hang out bersama teman-teman, nampak keren dengan status
mahasiswa, nampak intelektual dengan argumen-argumen cerdas dan nangkring di
perpustakaan. Pasca sarjana adalah waktu untuk berjibaku dengan kesulitan. Lebih
religius agar bisa banyak berdoa untuk kebaikan hidup. Lebih bekerja keras agar
dompet selalu ada persediaan harian atau bulanan. Tak lagi punya banyak waktu
bersama teman-teman.
Diantara miliaran manusia. Satu diantara mereka ada yang punya
kisah. Di usia kerja masih numpang hidup pada orang tua. Pensiunan aktivis. Yang
banyak mikir tidak banyak aksi. Mengisi waktu dengan dengan mendaras buku dan
realitas. Menjadi orang yang terpinggirkan. Hidup pada dunia yang sunyi. Yang hanya
berteman dengan teduhnya langit kelabu. Semua ini menuntut diri untuk memiliki
emosi yang tenang. Lebih religius dalam kekhusyuaan dzikir.
Tiba saat terasa tak banyak waktu luang. Batas usia semakin singkat. Merasa sangat tertinggal
dengan yang lain. Tergopoh gopoh untuk mengejar kemandirian. Merasa kepayahan
memikul beban hidup yang terasa berat.
