Jumat, 30 Desember 2016

TERGOPOH GOPOH



Pada umumnya usia 23 tahun adalah usia untuk bekerja. Setelah menyelesaikan masa study selama 4 tahun di bangku perkuliahan. Usia ini semua orang dituntut untuk bisa hidup mandiri. Dimana sumber keuangan tidak boleh lagi dari orang tua. Hidup tidak boleh lagi bergantung kepada siapapun. Harus susah sendiri. Tidak menyusahkan orang lain.
Sedangkan mereka yang diluar daripada itu akan mendapat pandangan yang negatif. Baik itu dari orang-orang yang mengenal. Juga keluarga inti yang telah penuh ekspektasi kesuksesan bagi diri kita. Tidak memenuhi harapan itu adalah sebuah kekecewaan bagi mereka. Atau bahkan kemarahan.
Dunia di luar kampus tergambar sangat horor. Orang biasanya menyambut para sarjana dengan kata “selamat datang di dunia yang sesungguhnya”. Tapi, memang itulah yang sesuangguhnya. Di luar sana, persaingan kerja sangat keras, orang bisa bekerja tidak sesuai dengan spesifikasi studynya selama di kampus, sarjana hanya jadi tukang ojek, sarjana jadi pengangguran, sarjana buka usaha bisnis rumahan, hanya jadi honorer yang digaji 150 ribu perbualan. Itulah yang mereka sebut horor.
Entah dimana posisi kita. Dan bagaimana saat ini hidup itu dijalani. Yang jelas, pasca sarjana bukan lagi waktunya untuk tampil kece, instyle, banyak waktu untuk hang out bersama teman-teman, nampak keren dengan status mahasiswa, nampak intelektual dengan argumen-argumen cerdas dan nangkring di perpustakaan. Pasca sarjana adalah waktu untuk berjibaku dengan kesulitan. Lebih religius agar bisa banyak berdoa untuk kebaikan hidup. Lebih bekerja keras agar dompet selalu ada persediaan harian atau bulanan. Tak lagi punya banyak waktu bersama teman-teman.
Diantara miliaran manusia. Satu diantara mereka ada yang punya kisah. Di usia kerja masih numpang hidup pada orang tua. Pensiunan aktivis. Yang banyak mikir tidak banyak aksi. Mengisi waktu dengan dengan mendaras buku dan realitas. Menjadi orang yang terpinggirkan. Hidup pada dunia yang sunyi. Yang hanya berteman dengan teduhnya langit kelabu. Semua ini menuntut diri untuk memiliki emosi yang tenang. Lebih religius dalam kekhusyuaan dzikir.
Tiba saat terasa tak banyak waktu luang. Batas usia  semakin singkat. Merasa sangat tertinggal dengan yang lain. Tergopoh gopoh untuk mengejar kemandirian. Merasa kepayahan memikul beban hidup yang terasa berat.