Beberapa kali terdengar mahasiswa mati bunuh diri karena
ulah seorang dosen atau sistem kampus yang menyulitkan. Ini bukan hal yang
tidak mungkin terjadi. Apalagi jika kapasitas mental mahasiswa bersangkutan sangat
lemah. Yang menjadikan hal seperti ini masalah yang sangat besar dalam hidup
mereka.
Pangkat dosen tidak selalu dimaknai sebuah kualitas
pribadi seseorang. Bisa jadi hanya sebuah lambang kelulusan dari serangkaian
administrasi yang dibuat oleh pelaksana pendidikan. Kualitas pribadi dan
kelulusan dari serangkaian administrasi jika dpikirkan sepintas lalu adalah
sesuatu yang bisa dipersamakan. Tapi jika dikaji hingga konteks realitas yang
terjadi merupakan hal yang jauh berbeda. Ada banyak orang yang kualitas
pribadinya jauh lebih tinggi dibanding mereka yang gelarnya telah dibubuhkan
tanda tangan legalitas.
Ini merupakan persoalan yang sangat dilematis saat ini. Karena
legalitas sebuah jabatan berubah menjadi sebuah mandat untuk menindas orang
lain. Disebabkan oleh kualitas pribadi tidak berbanding lurus dengan berbagai
jenjang pendidikan yang telah dia lalui. Sehingga terlahirlah orang-orang yang
memandang pendidikan hanya sebauh mesin pencetak massa. Yang mengelolah
pendidikan terlalu kaku pada sistem yang ada.
Mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan yang dimiliki oleh peserta didik.
Para pengajar itu bukan lagi sosok yang melihat masa
depan mahasiswa. Tapi bertindak atas dasar baik buruk menurut subjektifitas
sang dosen. Tidak jarang seorang dosen memperlakukan siswanya karena pengalaman
buruknya sendiri. Menjadikan profesinya sebagai ajang untuk melampiaskan
amarahnya terhadap problematika hidup yang pernah dia alami. Atau mahasiswa
menjadi korban atas kekejaman sifat pribadi yang dia miliki.
Mahasiswa mengalami masa-masa yang berat. Yang jika
mereka tidak sanggup, maka akan mengacaukan kejiwaan mereka. Merasa tidak
sanggup menghadapinya. Merasa tidak lagi memiliki masa depan. Bahwa di waktu
yang akan datang ujian lebih sulit dibandingkan dengan ini. Berbagai pikiran
buruk bermunculan. Dan menghilangkan semangat untuk bertahan hidup. Menghilangkan
harapan hidup yang dia pegang selama ini. Berpikir jika hidup ini dicipta hanya
untuk disengsarakan, maka mengapa mesti harus ada diantara kehidupan.




