Rabu, 30 November 2016

MENGENANG KEKANAK-KANAKAN

Yang mengubah hidup kita adalah pengetahuan. Ini yang nanti akan menentukan karakter seseorang, yang menentukan tingkat kedewasaan. Pandangan hidup akan menetukan bagaimana seseorang bersikap di kehidupan sosial. Mungkin pernah banyak membenci orang atau marah karena mereka tidak sepaham dengan kita. Karena mereka berbeda pendapat dengan kita. 

Itulah yang pernah terjadi ketika membenturkan perbedaan antara kriteria perempuan idealnya seperti apa. Bahwa gerakan perempuan hanya boleh bercermin kepada para kader perempuan yang pernah di bina oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Perempuan tidak perlu mengakses gerakan perempuan yang diprakarsai oleh aktivis gender. Yang ternyata tak terbendung, ada yang tetap mengambil jalur kiri. Jalur pemikiran para revolusioner. 

Perseteruan antara kedua pihak memanas hingga saling; unfriend akun media sosial, tak ingin saling menyapa, tak ingin satu tim kerja dalam sebuah acara, putus kontak dari telewicara. Kedua belah pihak tetap berpegang pada kebenaran masing-masing. Dan menganggap yang lain salah. 

Kemudian berjalan waktu, pengetahuan terus semakin meluas, kembali dari perenungan hidup, memeriksa keterlibatan ego, maka berkesimpulan bahwa perbedaan tidak seburuk itu. Itu hanyalah dinamika yang akan mengajarkan banyak hal. Yang nantinya akan disyukuri. Yang nantinya akan dikenang sebagai satu fase pembelajaran. Sebagai satu fase untuk saling mengenal dalam ikatan persaudaraan. 

Tak salah jika ingin menyebutnya "mengenang kekanak-kanakan". Ingin bilang bahwa anggap saja dulu kita masih anak-anak yang belum banyak tahu tentang kehidupan. Yang kemudian pada titik ini melihatnya dari posisi diri sebagai orang dewasa, yang sudah mulai memahami arti banyak mengalah, tenang menghadapi perbedaan, yang mulai tak banyak menyalahkan orang lain, lebih sering mengembalikan sebuah persoalan pada diri sendiri terlebih dahulu.    

 

Selasa, 29 November 2016

WAKTU YANG TERBUANG




Dalam kurung waktu tertentu akan membawa kita pada perenungan tentang keberadaan kita di dunia ini. Sering mendengar tentang; memboroskan usia, telah menyia-nyiakan masa muda, terlambat untuk pencapaian tertentu. Kemudian terus memeriksa diri telah benarkah apa yang sedang kita kejar, telah benarkah tujuan hidup, telah benarkah cara-cara yang kita tempuh.
Ada orang menghabiskan usianya sebagai guru, ada yang hingga kematiannya hanya menjadi petani atau pedagang. Kemudian mereka meninggalkan anak-anak yang tidak menutup kemungkinan hanya akan menjadi penyebab permasalahan bagi kehidupan sosial. Mereka mewariskan kepada anak-anaknya harta sebagai bekal untuk melewati perjuangan hidup yang sulit. Begitu seterusnya siklus hidup secara turun temurun. Keseharian mereka hanya seputar mencari nafkah, membeli perabot rumah, membeli tanah dan membangun rumah mewah.
Apa sih yang menyita waktu orang selama 24 jam tersebut;

  1. Perempuan yang memiliki anak menghabiskan waktu untuk mengurus anak dan kebutuhan rumah tangga. 
  2. Orang yang bekerja akan menghabiskan waktunya untuk mengurusi perniagaannya 
  3. Orang menghabiskan waktu untuk bermain game. 
  4. Orang-orang yang menempuh pendidikan menghabiskan waktu untuk terus mengkaji ilmu pengetahuan. 
  5. Orang-orang menghabiskan waktu dengan banyak beristirahat, liburan, nonton ke bioskop.

“ada dua hal yang orang tidak akan pernah puas untuk mengejarnya yakni ilmu dan harta” Ali Bin Abi Thalib. Yang terkadang membingungkan orang adalah ingin terus menuntut ilmu, tapi tidak memiliki biaya. Ingin mencari pekerjaan, tapi dunia kerja terlalu membosankan jika hanya seperti itu. Kerja tidak sebanding dengan penghasilan.
Inilah waktu serasa terus mendesak. Sejak menjadi mahasiswa tidak banyak waktu untuk ngerumpi berbincang hal sepele. Waktu terasa sangat sempit untuk banyak membaca, urusan organisasi yang menyita waktu untuk mengkaji pengetahuan, tuntutan sarjana yang harus segera, hingga tuntutan kerja yang katanya sudah sangat terlambat. Serasa terus berlomba dengan waktu “diam sedetik berarti mati”. Yang mana terasa rugi jika berlama-lama nonton TV. Hingga tidak menginstal game di Handphone.

TAMPIL CERDAS

Kecerdasan entahkah itu adalah sebuah anugrah ataukah hal yang mesti untuk diusahakan. Pada kesempatan ini tidak ingin membahas tentang tinjauan sains tentang kecerdasan. Hanya ingin bercerita tentang narasi personal tentang kecerdasan.  

Entah berapa banyak orang di dunia ini memiliki kasus dimana mereka harus kembali belajar bersama anak kuliahan yang terpaut 6 atau 7 tahun usianya. Yang mana dia yang level pendidikannya seharunya telah menyelesaikan jenjang magister, tapi kemudian harus berada di ruang belajar bersama anak semester 3. Maka akan nampak perbedaan yang terpaut jauh dengan mereka. Yang mana perbedaan itu berupa; kemampuan kognitif, kematangan emosional, luasnya wawasan, struktur berpikir. 

Dalam kelas diskusi yang mana memunculkan wacana yang mesti untuk dibahas oleh semua peserta diskusi. Setiap orang akan akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengeluarkan argumen yang paling berkualitas. Sebelumnya mereka telah belajar, mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang topik yang akan dibahas. Mereka akan beradu argumen untuk memahami topik yang sedang disajikan oleh pemakalah. 

Itulah mereka mahasiswa semester 3. Adu argumen yang terjadi di kelas dipicu ole berbagai hal: motivasi mendapat nilai tinggi dari dosen, ingin tampil cerdas, benar-benar ingin tahu, sekedar ingin menang dan kalah antara penyaji dan peserta diskusi. Mahasiswa semester 3 adalah kumpulan orang yang sementara baru sedang ingin menjelajahi dunia; memperluas wawasan mereka, mencari tujuan hidup, mempelajari berbagai dimensi kehidupan. Pada umumnya ucapan mereka masih sebatas teori.

 Berada diantara mereka bukan hal luar biasa jika kemampuan argumen jauh nampak lebih cerdas, wawasan yang lebih luas, struktur berpikir yang lebih sistematis dan tujuan penyampaian jauh lebih realistis dan aplikatif. Tepukan dan kekaguman mereka terhadap argumen-argumen cerdas dari seseorang yang seharusnya sudah magister bukan sesuatu yang istimewa. Itu hanya sebuah kewajaran. 

Inilah sekat-sekat pengetahuan orang. Dimana ada orang yang cerdas diantara orang bodoh. Padahal seharusnya menjadi orang bodoh diantara orang pintar. Level-level kapasitas seseorang harus naik pada jenjang-jenjang tertentu. Tentunya dalam tolah ukur "keberislaman".

Meski demikian, ini mengajarkan bahwa dimanapun itu, adalah tempat untuk belajar. Pengetahuan tidak hanya jika berada di tengah-tengah kandidat doktor. Tapi juga jika berada diantara mahasiswa semester 3. Berdiskusi tentang dinamika kehidupan. Melihat pandangan mereka terhadap dunia, melihat temuan-temuan mereka terhadap zaman dimana dia sedang berada.

Ulasan ini masih dalam tanda petik yang berarti butuh penjelasan lebih lanjut. Karena perlu diingat bahwa syarat masuk syurga itu bukan kecerdasan. Tapi amal kebaikan. 

- Tolak ukur kecerdasan dan keistemewaan seseorang??

 

Kamis, 24 November 2016

PANDANGAN BURUK


Ketika ada kecacatan dalam diri, tak bisa memaksakan orang lain untuk tetap memandang kita baik. Mereka memiliki hak berpikir apa saja tentang orang lain. Sehebat apapun diri seseorang tak akan mampu mengikuti apa yang mereka inginkan terhadap diri kita. 

Kadang terlalu menyakitkan, terlalu mengerikan membayangkan apa yang orang lain pikirkan terhadap diri kita. Belum sukses, mereka akan meremehkan. Belum menikah, mereka berpikir kita orang yang susah rezki. Sering meminta tolong, mereka memandang bahwa kita menyusahkan.

 Tak salah jika mereka memiliki banyak pandangan buruk terhadap diri kita. Karena hidup ini memang bukan untuk mereka. Tak perlu untuk membuktikan kepada mereka bahwa kita baik. Tapi berprilakulah seperlunya dan semampunya. Tuhan saja menyuruh untuk “bertaqwa semampunya” (Q.S At-thogobun: 16) kenapa mesti memaksa diri untuk berbuat sesuai kemampuan mereka. 

Mereka akan mengukur orang lain berdasar alat ukur yang mereka punya. Bisa jadi dia “sedang mengukur langit dengan sejengkal lidi”. Mengukur kesuksesan orang dengan ukuran kesuksesan menurut mereka. Mengukur kebahagiaan seseorang sesuai dengan ukuran kebahagiaan mereka.  

Menjajaki jalan pikiran manusia akan menemukan kekusutan yang amat sangat. Diri adalah bagian kekusutan itu. Dalam ikatan tersebut tak akan pernah mampu bebas sepenuhnya. Selama masih hidup, maka akan tetap menjadi bagian dari keterikatan emosi antara satu dengan yang lainnya. Akan menjadi bagian kebencian, kemarahan, kesukaan, kebanggaan, kesedihan dan kebahagiaan mereka. 

Jika mendapat pandangan buruk dari orang lain. Maka mungkin kita ibarat “sebuah titik tinta di di tengah selembar kertas. Orang lebih cenderung memfokuskan pandangannya pada satu titik tersebut dan mengabaian bagian putih yang jauh lebih besar.” Atau mungkin memang kita lebih buruk dari apa yang mereka pikirkan. Maka tidak perlu marah!! Teruslah “membenahi iman dan amal sholeh. maka Allah SWT yang akan menghapus keburukan yang melekat pada diri mu”

Minggu, 20 November 2016

MEWARISKAN KASIH SAYANG


Seorang anak sering datang mengatakan “aku sayang kamu” sambil berekspresi dengan gerakan tangan ala pemenang Indonesian Idol. Juga beberapa kali memberi ciuman tanpa diminta. Serta datang memberi pelukan tiba-tiba. Itulah anak-anak belum tahu menyembunyikan perasaan suka atau kejengkelan mereka. Apa yang dia lakukan itu sangat menyenangkan bagi orang-orang yang ada disekitarnya, sekalipun itu anak-anak siapa yang tidak ingin disayangi. 

Anak-anak selalu memiliki tingkah yang lucu yang terkadang diluar dari dugaan. Anak ini juga sama. Namanya Aisya Sakila Hairani. Melihat namanya dia blasteran Arab Indonesia. Hehe, Tidak. Dia asli suku bugis Indonesia, ayah ibunya orang bugis. Ibunya masih muda, lahir 1994, menikah di usia 17 tahun (belum lulus dari SMA). Saat ini mahasiswi semester akhir dari fakultas SOSPOL, administrasi negara. Dia memiliki ilmu parenting yang cukup, apa yang tidak boleh dan boleh diajarkan kepada anak dan bagaimana memperlakukannya. Maksudnya adalah pendidikan anak ini cukup tersentuh oleh kemajuan zaman. Dibandingkan dengan pendidikan orang tua yang masih minim informasi tentang pendidikan anak.  

Ungkapan sayang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya ditiru dari ibunya yang sering mengucapkan kalimat tersebut kepada dirinya.  Masa gold age adalah waktu yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai positif. Menunjukan hal-hal yang baik kepada mereka. Karena itulah yang akan menentukan bagaimana karakter mereka dimasa depan. Jika yang selalu kita tunjukkan kepada mereka adalah bagaimana saling berkasih sayang maka begitulah mereka nanti memperlakukan orang lain. 

Sebaliknya, jika yang selalu mereka saksikan adalah pertengkarang, instruksi berupa teriakan bukan bimbingan, kemarahan bukan kedamaian, maka itu pula yang akan tertanan dalam diri mereka. Mereka akan tumbuh menjadi anak nakal yang menyusahkan orang tua dan orang-orang yang akan berinteraksi dengannya nanti.  

Karakter merupakan warisan yang mereka terima dari orang-orang yang terlibat dalam pendidikan mereka. Orang tua, paman, bibi, nenek, kakek, sepupu. Jika anak-anak mulai berintaksi dengan orang lain dan mengambil contoh yang buruk dari mereka maka rumah adalah madrasah utama untuk meluruskan semua hal tersebut. 

Dan terakhir, "I love you too, Aisya". Terimakasih atas kecupan dan pelukannya. Akan membekas sebagai cinta dalam babak mengenang kenangan.

Jumat, 18 November 2016

MASIH INGIN BEBAS


Menikah muda tak semua orang melakukannya atas keinginan sendiri. Ada yang melakukannya karena kondisi menuntutnya demikian, diantaranya: karena desakan ekonomi orang tua yang tidak lagi sanggup untuk menafkahi mereka, terpaksa untuk menutupi aib dari hamil di luar nikah (marriage by incident). Juga ada yang melakukannya karena kerelaan. Berpikir bahwa menikah akan segera menyelesaikan masalah. Dua orang tersebut akan diliputi dengan kebahagiaan. 

Menikah merupakan salah satu keputusan terbesar diantara yang lain yang akan kita ambil selama hidup. Menikah merupakan tanggungjawab yang sangat besar. Menikah tak hanya tentang bahagia berdua. Ini bisa jadi menjadi sebuah bumerang. Ada banyak orang yang mengalami trauma akibat kehidupan pernikahan yang gagal. Manganggap bahwa itu adalah pengalaman terpahit yang pernah dia lalui. 

Menikah adalah persandingan antara dua orang untuk melalui perjuangan hidup. Yang menuntut orang untuk memiliki persiapan yang cukup. Yang utama adalah kesiapan mental. Menikah dibutuhkan kedewasaan berpikir dalam menyikapi perbedaan. Kemampuan untuk mengatasi permasalahan internal keluarga yang disebabkan oleh kesulitan hidup yang sedang dihadapi.

Menikah muda bukan sebuah kesalahan. Bahkan sebuah satu bentuk keberanian. Orang yang menikah mudah perlu diberikan apresiasi besar. Mereka meninggalkan banyak hal di dunia luar untuk memikul tanggungjawab sebesar itu. Salah satunya adalah 'kebebasan hidup'. Anak-anak yang lahir membutuhkan perhatian bahkan hingga 24 jam setiap hari. Anak harus menjadi prioritas utama dan meninggalkan yang lain jika akan mengganggu urusan anak.

Itulah yang terlihat dari mereka. Tak lagi memiliki banyak waktu untuk belajar. Tak memiliki banyak kesempatan untuk "me time". Tak lagi memiliki kehendak sendiri. Kerja keras, waktu, keletihan, pikiran harus tercurah hanya untuk keluarga. Pengalaman hidup hanya seputas perjuangan keluarga. Tak pernah mengalami masa-masa dibuly karena kelamaan jomblo. Tak mengalami masa-masa sunyi yang mana hanya memiliki senja untuk berbagi. Tak menikmati masa-masa perenungan hidup bersama ruang kosong di dinding kamar.

Kamis, 17 November 2016

TAK MENYUARAKAN CINTA

TAK MENYUARAKAN CINTA

Menyukai adalah sebuah naluri bawah sadar, datang begitu saja, tanpa perlu untuk direncanakan. Menyukai seseorang mungkin berawal dari look (penampilan, ketampanan, dll), apa yang kita lihat dari orang tersebut. Kemudian bisa jadi dari intensitas pertemuan atau perhatian yang diberikan. Apalagi perempuan, sangat mudah tersentuh hatinya. 
Tidak semua orang yang selalau berada di sekita kita, juga dekat di hati. Hanya orang-orang tertentu. Kau ingin selalu dekat dengannya, mencari alasan untuk bisa berkomunikasi, ingin pergi kemana dia pergi, merasa nyaman jika sedang berbincang, selalu ingin melihat apa saja yang dia posting, apakah dia sedang online atau tidak. 

Hubungan seperti ini tidak mudah. Kadang ingin segera menghilang jika bertemu, menjaga bahasa tubuh agar tetap bersikap biasa, komunikasi harus diatur agar tak ketahuan, tidak me-like statusnya agar tak terbaca oleh yang lain, harus menyibukkan diri agar tak selalu memikirkannya. Harus bersabar jika bertepuk sebelah tangan atau dia tak kunjung datang. 

Beginilah hubungan ini harus dijalani. Entah mengapa belum juga dipertemukan dalam ikatan yang sah. Hubungan ini telah berjalan sejak 5 tahun atau mungkin 6 tahun yang lalu. Hanya seperti ini, tak ada peningkatan status. Tak banyak perubahan berupa janji atau komitmen, sejak saat itu masih sebatas 'cinta dalam hati'. Masih menghitung hari, menentukan target tahun, merangkai hayalan masa depan, menikmati kenangan-kenangan, menaksir kedalaman rasa. 

Cinta dalam hati, tak tercakapka dalam keramaian yang tak pernah dirayakan hari jadinya, yang tak pernah diumumkan sosok dan namanya, yang tak pernah terikat status. Disini seseorang masih betah bersama semilir angin sunyi menanti hari lamaran atau kabar tentang beredarnya undangan bersama siapa.

Disini berpasrah dengan waktu untuk menjawab semuanya. Menjalaninya tanpa membebani karena hubungan tak selalu harus berakhir dengan pernikahan. Juga bisa jadi sebatas teman atau kenalan. Rahmat Tuhan tak hanya tentang saling berpasangan. Tapi juga tentang kebahagiaan2 kecil yang kita ciptakan sendiri. Karena jalan ke syurga tak hanya satu dan tak mesti selalu bersama.