Minggu, 26 Februari 2017

KINI TAK LAGI PEDULI



Berjalan gontai diantara keramaian. Entah siapa mereka yang juga sedang berjalan. Hanya berpikir tentang diri. Melangkah entah ingin kemana. Ingin pulang terasa enggan. Ingin pergi berhibur, tapi tak apa lagi yang bisa menghibur. Harus kemana tak tahu. Harus melakukan apa tak tahu. Dalam ada dalam benak, kapan hidup ini akan berakhir. Terkadang berpikir tak ada guna melakukan apa-apa.
Dulu pernah bermimpi bersama seseorang menghabiskan usia. Bersama hingga akhir waktu. Menjalani hari, membuka mata bersama dipagi hari. Dan bercengkrama sampai mata tertutup dalam kelelahan. Bermain bersama buah hati yang menggemaskan. Dan pergi mencuri waktu untuk hanya berdua berbagi rasa diantara keindahan alam.
Itupun pudar. Dia yang dulu muncul dalam angan. Kini tak lagi terpaut rasa. Mungkin telah terlampau jauh dan terlampau lama. Hidup, tak lagi ingin ku kaitkan dengannya. Masing-masing memiliki jalannya sendiri. Kini hanya perlu memikirkan diri sendiri. Dan terus belajar cara untuk menikmati hidup. Karena Tuhan masih memberi kesempatan untuk bernyawa. Maka biarkan diri hanya hidup untuk orang lain. Tak lagi hidup untuk bahagia sendiri.
Hanya teman biasa. Jika menyapa tak bermaksud apa-apa. Jika sedang bersama hanya bersikap biasa. Jika bertemu tak lagi canggung. Tak lagi merindu, tak lagi mengharap. Antara kita hanya teman lama yang telah lama tak berjumpa. Yang masing telah memiliki kesibukannya sendiri. Teman lama yang ingin tahu kabar kapan dia akan menikah, dia sedang sibuk apa dan bagaimana pekrjaannya. Cukup itu saja.
Mungkin telah mati rasa. Hingga hari ini telah banyak belajar tentang antara perempuan dan laki-laki. Bahwa perempuan tak boleh mempertautkan hatinya dan hidupnya pada seseorang. Karena sering menganggap bahwa dialah teman hidup hingga akhir, dialah yang teman bersanding di pelaminan, dialah teman berbulan madu. Tapi ternyata dia bersama orang lain. Bahagianya bukan bersama kita. Tapi bersama orang lain. Bahwa diri bukan kriteria yang dia inginkan. Bahwa diri tidak seistimewa itu dimatanya.
Mungkin pernah ada yang mengagumi. Mungkin pernah ada yang memiliki impian yang sama. Mungkin pernah menjadi istimewa dimata seseorang. Tapi buat apa jika itu hanya sebuah hasrat sesaat, kekaguman sesaat dan perasaan sesaat. Tak ingin dia perjuangkan, tak ingin dia wujudkan. Pada akhirnya waktu berlalu. Para perempuan itu semakin tua. Dan daya tarik juga mulai memudar. Para perempuan itu bukan lagi remaja yang lucu, wajah yang cute, pribadi yang lugu. Tapi para perempuan itu telah menjadi dewasa yang lebih rasional memandang kehidupan. Yang tak lagi punya waktu hanya untuk bermain cinta. Yang hanya berpikir untuk memperjuangkan kehidupan.    

Sabtu, 25 Februari 2017

TAK TERUSIK

Setiap orang berhak memberikan penilaian. Tak ada yang mampu menghalangi apa yang orang lain pikirkan. Ada dua pertanyaan yang sering mengusik, yakni: bagaimana kesuksesan dan kapan menikah? Setiap orang yang mengenal kita, dua hal itulah yang selalu mereka nantikan. Sekaligus mereka jadikan sebagai tolak ukur mereka untuk memberikan penilaian yang baik pada diri seseorang.
Bagi sebagian orang ini merupakan hal yang tidak menyenangkan. Yang lelah mendengarkan pertanyaan yang sama setiap kali bertemu dengan orang-orang. Yang semakin menyiksa ketika melihat kehidupan mereka yang nampak bahagia dengan pasangan dan anak-anaknya. Yang merasa kasihan dengan diri yang belum ada “kemajuan”.
Bukan ingin menjauh. Tapi terlalu banyak hal yang mesti dilakukan selain hanya riuh dalam perbincangan, sibuk mempertanyakan dan menghabiskan waktu untuk mencela. Terdiam dalam angan-angan yang panjang yang tidak bermanfaaat. Setiap orang membayangkan yang ideal. Tapi jika hidup ini selalu harus sesuai dengan keinginan, maka dimana letak bahwa hidup ini adalah ujian.
Memikirkan apa kata orang adalah sesuatu yang menyiksa, satu beban yang mengekang, satu hal yang menghalangi diri untuk menikmati kebahagiaan. Tak bisa memaksakan orang lain untuk memberi kesan yang baik, tak bisa memaksa mereka untuk menerima kita apa adanya, tak bisa memaksa mereka untuk menerima apa yang kurang. Maka dari itu, hidup ini hanya perlu untuk merencanakan yang baik. Kemudian mengusahakan terwujudnya apa yang kita rencanakan.
Dengan demikian cukup jalani apa yang Tuhan anugrahkan dan kerjakan hal yang bermanfaat. Berkuliah di jurusan pendidikan, ada ribuan anak-anak yang membutuhkan bimbingan. Jika bekerja sebagai pengusaha, mengapa tak sibuk melakukan pengembangan usaha. Jika bekerja dalam pelayanan masyarakat mengapa tak sibuk untuk melayani orang banyak. Atau menghabiskan waktu untuk mendaras buku dan menulis agar bisa berbagi dengan dunia. Bercengkrama dengan semesta, bertadabbbur dengan ayat-ayat Tuhan. Sehingga tak ada ruang bagi mereka untuk mengusik hidup yang dinikmati.