Sabtu, 21 Januari 2017

AKAN INDAH PADA WAKTUNYA



Setiap orang pasti pernah berada disebuah kondisi dimana merasa beban itu terlalu berat untuk dipikul. Entahkah itu masalah keuangan, masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah interaksi sosial, masalah study. Ada banyak hal yang tidak sesuai keinginan, urusan tidak selancar apa yang kita harapkan, cita-cita tidak kunjung terwujud, orang-orang sekita hanya menjadi masalah.
Semua orang menginginkan selesai study diwaktu yang tepat, mendapat pekerjaan dengan cepat, mandiri, menikah dan memiliki keluarga bahagia dan berkecukupan. Idealnya seperti itu. Tapi karena hidup ini ujian. Maka tidak mungkin akan seperti itu. Harus bersusah payah terlebih dahulu.
Ada persoalan yang membelit. Dalam bayang, ini adalah kepedihan yang panjang. Terasa terjatuh, tidak bisa berbuat apa-apa. Berpikir dunia ini terlalu kejam. Terlalu memaksakan kehendak pada kemampuan diri yang tak memimiliki apa-apa.  Hari itu sangat butuh ada teman untuk berbagi. Ada teman untuk bertumpuh.  Ada yang menolong untuk memberikan jalan keluar. Kemudian semakin menyakitkan ketika tidak mendapatkan semua. Bahkan mereka terasa semakin memberatkan masalah.
Inilah dia tempat belajar terbaik, bahwa orang-orang sekalipun dia teman yang sangat dekat tidak bisa berharap banyak padanya. Setiap mereka memiliki ujian sendiri. Mereka memiliki titik lemah sendiri. Kemudian berpikir, “mengapa takut dengan kemiskinan. Padahal kita memiliki Allah Yang Maha Kaya”. Segala daya upaya hanya untuk Nya. Dan hanya pada Nya memohon pertolongan. Jika memang ini urusan karena Allah, maka Dia pulalah yang akan menunjukkan jalannya.
Hidup seperti lautan yang indah bersama ombaknya, seperti jalan yang berhias lika liku, seperti indahnya daratan karena adanya pegunungan. Tak ada yang tak mungkin untuk kita lalui. Hanya perlu waktu untuk belajar menaklukkan ombak, belajar menaklukkan pendakian yang curam, bersabar dengan perjalan panjang yang berliku. Dan akan indah pada waktunya. Dan semua itu jika bersama Penciptanya. Yang paling tahu bagaimana cara melaluinya.

Jumat, 20 Januari 2017

NYAWA YANG HILANG




Jauh perjalanan ini terkadang  mempersaksikan hutan lumut yang angker dengan suara sunyi yang mencekam.  Pula kadang mengalir damai bersama bunyi percikan dari dalam sungai. Kadang menyengat membakar tak berperih. Kadang berembun dan membawa kesejukan. Inilah sebuah lika liku untuk mengajarkan arti perjalanan.
Waktu antara detak jantung kali pertama hingga hembusan nafas hari ini adalah waktu yang telah terpaut jauh. Kemudian dunia memperkenalkan bukan hanya belahan kasih ibu, tapi juga tumpah darah antar sesama. Entah apa yang mereka perebutkan. Entah apa yang mereka ributkan. Hingga yang membuat Nabi Muhammad saw merasa udara di Makkah seperti racun yang menyesakkan. Adalah racun yang tak bisa lagi dihirup. Hingga membuatnya pergi jauh ke Gua Hira menikmati kesenyapan.
Berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Tapi ini masih tentang kesenyapan. Telah lama tak mendengar suara ramah sapaan dalam perjumpaan. Yang telah lama buta dari wajah berseri dari seorang kawan. Itu dia kematian yang sejak lama. Dimana jiwa kehilangan nyawa. Hanya meninggalkan raga yang bernafas. 
Kadang berpikir bahwa dunia ini adalah sebuah hutan tropis yang lebat oleh jutaan pohon pilihan hidup. Sering terjebak dalam kondisi dimana hanya diberi satu pilihan karena tahu bahwa tak mampu memilih yang lain atau itu bukan pilihan yang baik. Berkali-kali didera kecewa yang menyakitkan. Hingga duduk terdiam lama dalam tafakkur. Bahwa ada yang tidak mengecewakan, yakni hening dalam doa, sabar dan dzikir. Bahwa mengikuti ambisi untuk apa? Jika itu karena dalih ingin mengejar kebahagiaan. Maka itu salah!! Kebahagiaan tidak pasti ada dalam hal-hal besar yang ada dalam angan. Tapi ada dalam hal-hal kecil disekitar yang sering diabaikan.
Seperti hari ini, dimana play list satu persatu mulai terhapus dan terganti dengan riuh kicauan pipit di pagi hari, kesetian menanti hujan datang, kedamaian mengantar senja, keheningan bersama doa-doa, menikmati segelas es kelapa yang nangkring di tepi jalan atau merogoh kocek 5.000 untuk mendapatkan sebungkus es krim atau es teh menanti waktu berbuka puasa. Begitulah hari-hari bahagia itu terlalui. Menjaga jarak kebisingan. Dan bersenyap ria dengan hembusan angin dari samudra di dermaga. Tak perlu banyak orang untuk bahagia. Cukup diri sendiri belajar cara untuk bahagia.
Bukan egois atau apatis. Hanya saja jika ada yang hadir hanya membuyarkan senyap. Maka biarkan dia dengan bahagianya. Bukan salah siapa siapa jika menjauh. Tapi senyap terlalu berharga untuk dia rebut. Nanti ketika dia telah belajar berbicara dengan hati. Maka berkariblah kembali. Karena dunia senyap adalah tentang mereka yang hanya saling memberi isyarat untuk mengerti.
Inilah nyawa itu. Tat kala raga berada dibawa senja, berada di ujung dermaga, berada di bilik yang tak terdengar apa- apa selain detingan jam dinding. Kembali bernyawa dalam nafas tasbih. Secercah  cahaya mulai menuntun kemana kaki harus dibawa. Nyawa kembali hadir untuk membawa raga sampai ke titik akhir. Hingga perpisahan sesungguhnya diiringi oleh malaikat Izrail dan isak tangis orang terkasih.

#masih tentang sunyi
#Sidrap, 20 January 2017.

Rabu, 18 Januari 2017

STATUS JONES YANG DINIKMATI



Diusia tertentu pertanyaan yang menyakitkan, yang kadang merenggangkan hubungan silaturahim adalah “kepan menikah?”. Diwaktu itu orang-orang mulai menghitung-hitung teman-teman seusianya atau seangkatannya yang sudah dan yang belum menikah. Antara mereka saling memperhatikan perkembangan nasib hidup yang mereka jalani. Ada yang beberapa lama tidak bertemu sudah memposting foto keluarganya dengan satu atau dua anak. Teriris hati, tertampar, tersudutkan, terbebani dengan berbagai pikiran-pikiran buruk tentang “perawan tua”.
Dengan status jomblo terasa ruang gerak dalam interaksi sosial menjadi terbatasi. Takut memikirkan tentang bagaimana pandangan orang. Merasa kebaikan Tuhan tidak sampai pada diri. Merasa bernasib buruk diantara yang lain.  Yang mana tidak bisa merasakan rengekan anak meminta beli permen, belum bisa merasakan dibelikan martabak oleh suami di tengah malam, belum bisa merasakan melihat permintaan maaf suami ketika sedang marah. Bayangan-bayangan tentang kebahagiaan dalam binaan keluarga terus menghantui.
Inilah satu fase kehidupan yang harus dialami oleh banyak orang. Yang mana ketika bertemu orang itu adalah pertanyaan utama. Pulang kampung, orang tua dan kelurga sering mengeluarkan sindiran. Nenek terus memonitor pria yang sedang mencari jodoh. Tante kesana kemari mencari tahu bacaan untuk cepat menemukan jodoh dari orang-orang yang dianggap pintar di kampung tersebut. Tetangga, sepupu, teman sekolah topik perbincangannya sudah seputar anak dan ekonomi keluarga.
Kemudian bagaimana orang yang bersangkutan, yang sedang mengalami hal tersebut? Yaaa tentu bermacam-macam, tergantung bagaimana mereka mengatasi hal ini. Ada yang mulai berpenampilan lebih modis karena menurutnya itulah yang akan mempercepat jodohnya. Ada yang terang-terangan menyatakan sudah siap untuk menikah. Ada yang sering memposting hal-hal seputar jodoh untuk menghibur diri atau memblok anggapan-anggapan orang. Dan ada yang tetap bersikap biasa-biasa saja.
Golongan yang terakhir ini yang ingin sedikit diulas disini. Bahwa jika jomblo adalah masih menjadi status. Yang bukan kita sengaja memilihnya. Tapi memang takdir yang kita jalani masih sebatas itu. Maka mengapa harus dijadikan beban yang berat. Pernikahan bukan hanya tetang kebahagiaan saja. Tapi juga banyak deraan kesulitan di dalamnya. Pernikahan tidak berarti masa ujian sudah berakhir. Padahal kan, masa ujian berakhir itu adalah diwaktu ajal kematian menjemput. Bukan ketika ijab kabul terucap. Masih berstatus singel adalah ujian, juga ketika sudah menikah. Ada kesulitan hidup yang harus dijalani ketika masih sendiri juga ada kesulitan hidup yang harus dilalui ketika bersama pasangan.
Hidup ini terhitung sejak lahir hingga mati. Bukan terhitung sejak lahir hingga menikah. Maka entahkah belum menikah atau sudah menikah status sebagai hamba Allah SWT harus tetap jalan: yakni diciptakan hanya untuk beribadah (az-zariat: 54), kesempatan hidup hingga mati untuk diuji siapa yang paling baik amalannya (al-mulk: 2). Dan amalan yang baik itu bukan hanya mengurus keluarga. Tapi bekerja, berinfak, belajar, sholat malam, puasa, aktif jadi relawan sosial, berdakwa juga adalah amalan yang baik. Dan itu bisa dilakukan meski belum menikah. Beginilah cara kita menikmati kesendirian.
Sembari menikmati sejuknya udara pagi, indahnya kaki langit berhias senja, meminum secangkir teh dibawah perecikan hujan, bacaan buku-buku dalam alunan sunyi, tangisan dalam tasbih saat tahajjud, kesejukan hati oleh untaian ayat-ayat sicu dan tarian jemari diantara uraian kata dalam catatan harian. Kata orang “santai mi! Dunia ji ini!”

#Sidrap, 19 Januari 2016
#Tetap setia dengan sunyi

Selasa, 17 Januari 2017

MENULISKAN KEKOSONGAN



Jika setiap orang ingin mencatat atau menuliskan semua yang mereka lakukan di hari itu, atau menjawab pertanyaan di facebook “apa yang anda lakukan?” maka setiap detik akan ada saja hal yang ingin mereka tuliskan. Mereka akan menulis; masih ngantuk, lagi santai, sedang rindu, mengingat si dia, bersemangat, lagi ingin mandi, lagi menikmati secangkir teh, merasa hampa. Dan berbagai hal yang mereka rasakan, yang mereka pikirkan, yang mereka lakukan, yang akan mereka lakukan. Menuliskan semua itu, ingin orang lain tau, atau sekedar ingin meluapkan dan mengeluarkannya dari diri.
Ada orang, hari ini semua waktu sudah terisi dengan akitivitas fisik. Yang secara otomatis akan menyibukkan pikiran untuk memikirkan apa yang sedang dikaerjakan. Mungkin sedang mengerjan penyuksesan acara seminar, atau mereka sedang kerepotan dengan anak balitanya yang mulai sangat aktif, atau mereka sedang sibuk menyemai tanama cabainya dari gulma.
Sedangkan ketika sendiri tanpa interaksi dengan kehidupan sosial maka akan berbeda ceritanya. Yang terjadi tak ada teman yang bisa diajak bicara. Terkadang tangan tidak terkontrol untuk mengangkat handphone ingin berkomunikasi dengan dia. Ada rasa ingin terus berbincang dengannya. Tapi kemudian terhalang oleh sebuah etika. Dimana komunikasi tidak boleh dilakukan untuk menjaga hubungan yang baik antara keduanya. Agar percakapan tidak menyebabkan persinggungan di dunia nyata. Mungkin berupa hubungan berpacaran dalam waktu lama tapi tetap saja tidak bisa terwujud dalam hubungan pernikahan.
Ini mungkin yang bisa disebut sebagai “kekosongan”. Ketika guncangan-guncangan rasa dan kekalutan pikiran hanya berjalan ditempat tanpa ada ruang untuk mengalirkannya. Maka dari itu ruang tulis adalah tempat teraman untuk menyalurkannya. Berdiam di tempat menuangkan dalam rangkaian kata. Merapikan kenangan, menyusun ide, mengingat ilmu, mengatur emosi, akhirnya bukan lagi kekosongan. Tapi mengisi diri dengan refleksi tentang hidup.
Satu penemuan baru, mengapa Allah SWT bersumpah dengan pena dan apa yang dituliskannya (al-qolam: 1). Bahwa ruang tulis bukan ruang yang mati. Tapi ruang dimana ada kehidupan di dalamnya. Dimana kita bisa berinteraksi dengan berbagai dimensi kehidupan dengan tulisan. Sehingga kekosongan bukan lagi kekosongan tapi waktu untuk beinteraksi dengan dimensi lain selain dimensi sosial. Yang bisa jadi lebih aman dari interaksi dengan cara berinteraksi yang lain. Dengan ini bisa hubungan kita dengan manusia yang lain bisa lebih terarah. Termasuk hungan asmara. Dimana tak perlu banyak waktu untuk berangan-angan yang belum tentu akan terjadi. Dengan ini bisa lebih mengenali perasaan kita. Bahwa sebenarnya bahagia tidak harus mengalami ketergantungan yang kuat pada seseorang tersebut.  
Berakhir bahagia. Kekosongan tak selalu merupakan sebuah kesedihan, sesuatu yang membosankan, tapi salah satu cara untuk lebih mengenali diri. Waktu untuk mengatur spasi spasi kehidupan kita. Agar tidak terjadi kesesakan yang menekan nafas kebahagiaan. Mengajarkan diri bahwa ada banyak cara untuk bahagia di setiap detik waktu yang Tuhan anugrahkan.

#menghibur diri
#Sidrap, 18 Januari 2017