Rabu, 15 Maret 2017

BUKAN PENGAJAR



Beberapa kali terdengar mahasiswa mati bunuh diri karena ulah seorang dosen atau sistem kampus yang menyulitkan. Ini bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Apalagi jika kapasitas mental mahasiswa bersangkutan sangat lemah. Yang menjadikan hal seperti ini masalah yang sangat besar dalam hidup mereka.
Pangkat dosen tidak selalu dimaknai sebuah kualitas pribadi seseorang. Bisa jadi hanya sebuah lambang kelulusan dari serangkaian administrasi yang dibuat oleh pelaksana pendidikan. Kualitas pribadi dan kelulusan dari serangkaian administrasi jika dpikirkan sepintas lalu adalah sesuatu yang bisa dipersamakan. Tapi jika dikaji hingga konteks realitas yang terjadi merupakan hal yang jauh berbeda. Ada banyak orang yang kualitas pribadinya jauh lebih tinggi dibanding mereka yang gelarnya telah dibubuhkan tanda tangan legalitas.
Ini merupakan persoalan yang sangat dilematis saat ini. Karena legalitas sebuah jabatan berubah menjadi sebuah mandat untuk menindas orang lain. Disebabkan oleh kualitas pribadi tidak berbanding lurus dengan berbagai jenjang pendidikan yang telah dia lalui. Sehingga terlahirlah orang-orang yang memandang pendidikan hanya sebauh mesin pencetak massa. Yang mengelolah pendidikan terlalu kaku pada sistem yang ada.  Mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan yang dimiliki oleh peserta didik.
Para pengajar itu bukan lagi sosok yang melihat masa depan mahasiswa. Tapi bertindak atas dasar baik buruk menurut subjektifitas sang dosen. Tidak jarang seorang dosen memperlakukan siswanya karena pengalaman buruknya sendiri. Menjadikan profesinya sebagai ajang untuk melampiaskan amarahnya terhadap problematika hidup yang pernah dia alami. Atau mahasiswa menjadi korban atas kekejaman sifat pribadi yang dia miliki.
Mahasiswa mengalami masa-masa yang berat. Yang jika mereka tidak sanggup, maka akan mengacaukan kejiwaan mereka. Merasa tidak sanggup menghadapinya. Merasa tidak lagi memiliki masa depan. Bahwa di waktu yang akan datang ujian lebih sulit dibandingkan dengan ini. Berbagai pikiran buruk bermunculan. Dan menghilangkan semangat untuk bertahan hidup. Menghilangkan harapan hidup yang dia pegang selama ini. Berpikir jika hidup ini dicipta hanya untuk disengsarakan, maka mengapa mesti harus ada diantara kehidupan.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar