Makna fastabiqulkhaerat
Dalam perjalanan pergerakan IMM melakukan transformasi nilai kedalam tubuh mahasiswa dan kehidupan manusia tentunya akan menuai dinamika. “menanam padi pasti akan tumbuh rumput” ini adalah kalimat yang mewakili bagaimana IMM melawan arus idealisme yang berkembang.
Namun dalam perjalan. Silih berganti kader datang dengan membawa diri mereka yang tidak kosong. Bergabung dengan cara yang berbeda. yang turut menentukan bagaimana corak yang akan mereka bawa dari dunia mereka masing-masing. Menjalani proses kepemimpinan dari bawah. Dimana semuanya berpotensi untuk membawa corak masing-masing dalam tubuh IMM. Kemudian berbagai kemungkinan akan terjadi. Mungkin terjadi pegeseran demi pergeseran.
Mengevaluasi semua kinerja pimpinan sekaligus bagaimana dia mampu menyerap internalisasi trikompentensi IMM secara afektif. Untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan IMM merupakan sesuatu yang tidak mudah. Karena ada banyak aspek yang perlu untuk dievaluasi. Karena IMM bukan hanya sekedar wadah untuk mengembangkan softskil, bukan hanya sekedar wadah untuk pengembangan diri. ini melibatkan idealisme, melibatkan humanisme, transendensi dan dasar teori, sekaligus menjadi tolak ukur pencapaian target. Untuk mencapai ini bukan hal yang mudah.
Kemudian dalam hal ini permasalahan internal menjadi ancaman yang cukup besar. Kesalah pahaman atau miskomunikasi menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Menganggap Si ini salah dan Si itu yang salah. Apalagi menjelang pergantian kepemimpinan yakni Musyawarah komisariat. Satu persatu kader dibahas. Untuk melihat kapasitas mereka. apakah mereka yang akan menjadi pelopor yang akan membawa IMM pada kejayaan.
Dalam perjalanan aplikasi program kerja, satu persatu sosok tokoh IMM akan terlihat. Disana akan terlihat “apakah dia yang masuk di IMM ataukah IMM yang masuk pada dirinya”. Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Mereka akan menjadi kader yang hanya datang untuk kumpul-kumpul ataukah memang atas kesadaran untuk menjadikan IMM sebagai ladang amal. Datang untuk menjadi aktivis dalam roda pergerakan organisasi kemahasiswaan. Untuk melaksanakan tugas dan fungsi mahasiswa.
Dalam kajian non ilmiah ada tipe yang biasa digunakan untuk mengklasifikasifikasikan kader. Yakni tipe pekerja dan tipe pemikir. Ini sering menjadi obrolan dalam melihat bagaimana perkembangan kader. Ada diantara mereka yang tidak memiliki banyak pengetahuan sehingga banyak diam, tapi kerja-kerja teknis dia tidak ketinggalan. Sedangkan mereka yang tipe pemikir mereka yang identik dengan banyak ide, inspirasi karena memiliki banyak pengetahuan. Dalam melihat IMM secara keseluruhan maka identifikasi itu tidak cukup sampai disitu untuk dibahas. Antara kedua tipe ini memiliki ples mines. Dan bisa jadi berpengaruh sangat signifikan terhadap pergerakan organisasi.
Mengeluhkan orang karena tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mengharapkan mereka untuk mencurahkan lebih banyak waktu, lebih progresif, tidak NATO. Secara ideal semua orang mengharapkan itu. dalam proses untuk mencapai itu bukan melalui proses yang mudah. Ini menyangkut persoalan sulit atau tidaknya orang untuk berubah dan dirinya sebagai manusia. Mereka dalam kajian humanitas perlu ada pembongkaran paradigma. Dari paradigma primitif ke paradigma yang dinamis-berkemajuan.
Mereka perlu melihat dunia yang lebih luas bahwa dunia ini penuh dengan misteri. jika mereka tidak mampu memecahkan misteri itu maka mereka hanyalah bagian dari misteri yang ingin ditemukan. Bumi ini berputar atas kekuatan yang penuh misteri. itulah sebuah kekuasaan Allah SWT. orang yang tidak mampu menemukan itu dia hanya menjadi manusia yang merasa besar diantara orang-oran kerdil, dan merasa pintar diantara orang-orang bodoh serta merasa baik diantara orang-orang jahat. Disinilah konsep fastabqulkhaerat butuh untuk dimanifestasi.
Fastabiqulkhaerat tidak hanya sekedar mengandung unsur humanitas secara horizontal tapi juga mengandung unsur ketuhanan secara vertikal. Dalam ruang lingkup organisasi maka melakukan kerja-kerja oraganisasi tidak hanya bertujuan bagaimana orang lain mampu merasakan manfaat hadirnya organisasi tapi yang paling utama ikhlas karena Allah SWT. Mengharap ridho Allah SWT, hingga dimdahkan hidupnya di akhirat nanti. Jika ini telah dipahami maka tidak peduli banyak orang atau sedikit dalam jalan dakwah kita akan terus berbuat. Tidak peduli orang akan menghargai atau mengacuhkan. Tidak pernah merasa puas berapa kesuksesan yang telah dia lakukan selama mengerjakan kerja-kerja organisasi. tidak melihat apakah dia IMMawan ataukah IMMawati. dia terus melihat jauh kedepan bagaimana Islam dapat jaya ditangan IMM.
Berbica amal perbuatan tidak melihat siapa yang menjabat apa. yang diperhitungkan seberapa banyak kita beramal. Persoalan jabatan bukan hanya sekedar persoalan siapa yang berkompetensi tapi juga siapa yang berkesempatan. Jadi ber-IMM tidak perlu memikirkan akan menjadi apa, tapi berpikirlah bisa berbuat apa. silahkan jalani proses yang telah ditententukan. Kemudian terus tingkatkan kompetensi yang dimiliki. Persoalan kesempatan itu hanyalah persolan waktu.
Dengan konsep kepemimpinan kolektif kolegial, semua elment harus mampu menempatkan diri sesuai dengan fungsinya masing-masing. Jika terjadi ketipangan diatara satu maka yang lain ikut bertanggungjawab. Dalam sebuah blog yang ditulis oleh Adrianto mengemukakan intisari dari buku Riyadhush Sholihiin yang berkenaan dengan fastabiqulkhaerat. Pertama, bahwa melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda, melainkan harus segera dikerjakan. Dalam hadist Rasulullah saw. Juga menggunakan istilah baadiruu maksudnya sama, tidak jauh dari bersegera dan bergegas. Kedua, bahwa untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolong. Karena itu Imam An Nawawi menggunakan "al hatstsu" yang artinya saling mendukung dan memotivasi. Ketiga, bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam. Imam An Nawawi mengatakan "bil jiddi min ghairi taraddud". Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya.
Menyikapi Kepemimpinan Perempuan Dengan Fastabqulkhaerat
Dalam tubuh IMM pemahaman terhadap Q.S Annisa: 34 masih ada yang menjadikannya prinsip kepemimpinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak ada yang salah dengan pemahaman itu. secara universal seperti itulah adanya. Melihat sejarah kepemimpinan perempuan diseluruh dunia, hanya beberapa perempuan yang pernah menjadi pemimpin negara. Ini akan mengalir secara alami berdasarkan fitrawi kemanusiaan.
Namun dalam konteks zaman dan analisis kebutuhan perlu menjadi pertimbangan. Sedikit bukan berarti tidak ada. Itulah kepemimpinan perempuan. Dalam IMM itu sendiri yang notabenenya berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Yang artinya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai konsep pergerakan. Maka dari itu gunakan nilai-nilai Islam secara keseluruhan untuk menyelesaikan problematika. Sehingga kita tidak stagnan pada satu landasan. Menyikapi Q.S Annisa:34 dengan mengeluarkan pelarangan keras agar IMMawati tidak menjadi ketua umum. Ini hanya akan menimbulkan antipati dari pihak tertentu. Dalam buku Agama Punya seribu Nyawa sikap kepemimpnan profetik yang diajarkan Rosulullah adalah partisipasi-kontraktual, mengedapankan integritas dan prestasi amal saleh. Inilah yang perlu untuk dibumikan dalam gerakan IMM. Pelarangan hanya bersifat pelabelan. Dan untuk apa label tampa terisi dengan nilai-nilai aplikatif.
Biarkan mengalir dalam bingkai intelektual. Dengan nafas kolektifkolegial masing-masing memiliki tanggungjab untuk membenahi segala dimensi yang ada. Menjadikan cita-cita IMM sebagai cita-cita bersama. Jika masing-masing dari kader IMM telah sadar akan hal ini maka dengan sendirinya akan muncul tokoh-tokoh pemimpin. Dan menentukan ketua Umum dari masing-masing struktur kepemimpinan secara bijaksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar