Kecerdasan entahkah itu adalah sebuah anugrah ataukah hal yang mesti untuk diusahakan. Pada kesempatan ini tidak ingin membahas tentang tinjauan sains tentang kecerdasan. Hanya ingin bercerita tentang narasi personal tentang kecerdasan.
Entah berapa banyak orang di dunia ini memiliki kasus dimana mereka harus kembali belajar bersama anak kuliahan yang terpaut 6 atau 7 tahun usianya. Yang mana dia yang level pendidikannya seharunya telah menyelesaikan jenjang magister, tapi kemudian harus berada di ruang belajar bersama anak semester 3. Maka akan nampak perbedaan yang terpaut jauh dengan mereka. Yang mana perbedaan itu berupa; kemampuan kognitif, kematangan emosional, luasnya wawasan, struktur berpikir.
Dalam kelas diskusi yang mana memunculkan wacana yang mesti untuk dibahas oleh semua peserta diskusi. Setiap orang akan akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengeluarkan argumen yang paling berkualitas. Sebelumnya mereka telah belajar, mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang topik yang akan dibahas. Mereka akan beradu argumen untuk memahami topik yang sedang disajikan oleh pemakalah.
Itulah mereka mahasiswa semester 3. Adu argumen yang terjadi di kelas dipicu ole berbagai hal: motivasi mendapat nilai tinggi dari dosen, ingin tampil cerdas, benar-benar ingin tahu, sekedar ingin menang dan kalah antara penyaji dan peserta diskusi. Mahasiswa semester 3 adalah kumpulan orang yang sementara baru sedang ingin menjelajahi dunia; memperluas wawasan mereka, mencari tujuan hidup, mempelajari berbagai dimensi kehidupan. Pada umumnya ucapan mereka masih sebatas teori.
Berada diantara mereka bukan hal luar biasa jika kemampuan argumen jauh nampak lebih cerdas, wawasan yang lebih luas, struktur berpikir yang lebih sistematis dan tujuan penyampaian jauh lebih realistis dan aplikatif. Tepukan dan kekaguman mereka terhadap argumen-argumen cerdas dari seseorang yang seharusnya sudah magister bukan sesuatu yang istimewa. Itu hanya sebuah kewajaran.
Inilah sekat-sekat pengetahuan orang. Dimana ada orang yang cerdas diantara orang bodoh. Padahal seharusnya menjadi orang bodoh diantara orang pintar. Level-level kapasitas seseorang harus naik pada jenjang-jenjang tertentu. Tentunya dalam tolah ukur "keberislaman".
Meski demikian, ini mengajarkan bahwa dimanapun itu, adalah tempat untuk belajar. Pengetahuan tidak hanya jika berada di tengah-tengah kandidat doktor. Tapi juga jika berada diantara mahasiswa semester 3. Berdiskusi tentang dinamika kehidupan. Melihat pandangan mereka terhadap dunia, melihat temuan-temuan mereka terhadap zaman dimana dia sedang berada.
Ulasan ini masih dalam tanda petik yang berarti butuh penjelasan lebih lanjut. Karena perlu diingat bahwa syarat masuk syurga itu bukan kecerdasan. Tapi amal kebaikan.
- Tolak ukur kecerdasan dan keistemewaan seseorang??

Tidak ada komentar:
Posting Komentar