Ketika ada kecacatan dalam diri, tak
bisa memaksakan orang lain untuk tetap memandang kita baik. Mereka memiliki hak
berpikir apa saja tentang orang lain. Sehebat apapun diri seseorang tak akan
mampu mengikuti apa yang mereka inginkan terhadap diri kita.
Kadang terlalu menyakitkan, terlalu
mengerikan membayangkan apa yang orang lain pikirkan terhadap diri kita. Belum
sukses, mereka akan meremehkan. Belum menikah, mereka berpikir kita orang yang
susah rezki. Sering meminta tolong, mereka memandang bahwa kita menyusahkan.
Tak salah jika mereka memiliki banyak
pandangan buruk terhadap diri kita. Karena hidup ini memang bukan untuk mereka.
Tak perlu untuk membuktikan kepada mereka bahwa kita baik. Tapi berprilakulah
seperlunya dan semampunya. Tuhan saja menyuruh untuk “bertaqwa semampunya” (Q.S
At-thogobun: 16) kenapa mesti memaksa diri untuk berbuat sesuai kemampuan
mereka.
Mereka akan mengukur orang lain
berdasar alat ukur yang mereka punya. Bisa jadi dia “sedang mengukur langit
dengan sejengkal lidi”. Mengukur kesuksesan orang dengan ukuran kesuksesan
menurut mereka. Mengukur kebahagiaan seseorang sesuai dengan ukuran kebahagiaan
mereka.
Menjajaki jalan pikiran manusia akan
menemukan kekusutan yang amat sangat. Diri adalah bagian kekusutan itu. Dalam ikatan
tersebut tak akan pernah mampu bebas sepenuhnya. Selama masih hidup, maka akan
tetap menjadi bagian dari keterikatan emosi antara satu dengan yang lainnya. Akan
menjadi bagian kebencian, kemarahan, kesukaan, kebanggaan, kesedihan dan
kebahagiaan mereka.
Jika mendapat pandangan buruk dari
orang lain. Maka mungkin kita ibarat “sebuah titik tinta di di tengah selembar
kertas. Orang lebih cenderung memfokuskan pandangannya pada satu titik tersebut
dan mengabaian bagian putih yang jauh lebih besar.” Atau mungkin memang kita
lebih buruk dari apa yang mereka pikirkan. Maka tidak perlu marah!! Teruslah “membenahi
iman dan amal sholeh. maka Allah SWT yang akan menghapus keburukan yang melekat
pada diri mu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar