Minggu, 20 November 2016

MEWARISKAN KASIH SAYANG


Seorang anak sering datang mengatakan “aku sayang kamu” sambil berekspresi dengan gerakan tangan ala pemenang Indonesian Idol. Juga beberapa kali memberi ciuman tanpa diminta. Serta datang memberi pelukan tiba-tiba. Itulah anak-anak belum tahu menyembunyikan perasaan suka atau kejengkelan mereka. Apa yang dia lakukan itu sangat menyenangkan bagi orang-orang yang ada disekitarnya, sekalipun itu anak-anak siapa yang tidak ingin disayangi. 

Anak-anak selalu memiliki tingkah yang lucu yang terkadang diluar dari dugaan. Anak ini juga sama. Namanya Aisya Sakila Hairani. Melihat namanya dia blasteran Arab Indonesia. Hehe, Tidak. Dia asli suku bugis Indonesia, ayah ibunya orang bugis. Ibunya masih muda, lahir 1994, menikah di usia 17 tahun (belum lulus dari SMA). Saat ini mahasiswi semester akhir dari fakultas SOSPOL, administrasi negara. Dia memiliki ilmu parenting yang cukup, apa yang tidak boleh dan boleh diajarkan kepada anak dan bagaimana memperlakukannya. Maksudnya adalah pendidikan anak ini cukup tersentuh oleh kemajuan zaman. Dibandingkan dengan pendidikan orang tua yang masih minim informasi tentang pendidikan anak.  

Ungkapan sayang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya ditiru dari ibunya yang sering mengucapkan kalimat tersebut kepada dirinya.  Masa gold age adalah waktu yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai positif. Menunjukan hal-hal yang baik kepada mereka. Karena itulah yang akan menentukan bagaimana karakter mereka dimasa depan. Jika yang selalu kita tunjukkan kepada mereka adalah bagaimana saling berkasih sayang maka begitulah mereka nanti memperlakukan orang lain. 

Sebaliknya, jika yang selalu mereka saksikan adalah pertengkarang, instruksi berupa teriakan bukan bimbingan, kemarahan bukan kedamaian, maka itu pula yang akan tertanan dalam diri mereka. Mereka akan tumbuh menjadi anak nakal yang menyusahkan orang tua dan orang-orang yang akan berinteraksi dengannya nanti.  

Karakter merupakan warisan yang mereka terima dari orang-orang yang terlibat dalam pendidikan mereka. Orang tua, paman, bibi, nenek, kakek, sepupu. Jika anak-anak mulai berintaksi dengan orang lain dan mengambil contoh yang buruk dari mereka maka rumah adalah madrasah utama untuk meluruskan semua hal tersebut. 

Dan terakhir, "I love you too, Aisya". Terimakasih atas kecupan dan pelukannya. Akan membekas sebagai cinta dalam babak mengenang kenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar