Seorang anak sering datang mengatakan “aku sayang kamu” sambil
berekspresi dengan gerakan tangan ala pemenang Indonesian Idol. Juga beberapa
kali memberi ciuman tanpa diminta. Serta datang memberi pelukan tiba-tiba. Itulah
anak-anak belum tahu menyembunyikan perasaan suka atau kejengkelan mereka. Apa yang
dia lakukan itu sangat menyenangkan bagi orang-orang yang ada disekitarnya,
sekalipun itu anak-anak siapa yang tidak ingin disayangi.
Anak-anak selalu memiliki tingkah yang lucu yang terkadang diluar
dari dugaan. Anak ini juga sama. Namanya Aisya Sakila Hairani. Melihat namanya
dia blasteran Arab Indonesia. Hehe, Tidak. Dia asli suku bugis Indonesia, ayah
ibunya orang bugis. Ibunya masih muda, lahir 1994, menikah di usia 17 tahun
(belum lulus dari SMA). Saat ini mahasiswi semester akhir dari fakultas SOSPOL,
administrasi negara. Dia memiliki ilmu parenting yang cukup, apa yang tidak
boleh dan boleh diajarkan kepada anak dan bagaimana memperlakukannya. Maksudnya
adalah pendidikan anak ini cukup tersentuh oleh kemajuan zaman. Dibandingkan dengan
pendidikan orang tua yang masih minim informasi tentang pendidikan anak.
Ungkapan sayang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya ditiru
dari ibunya yang sering mengucapkan kalimat tersebut kepada dirinya. Masa gold age adalah waktu yang paling
tepat untuk menanamkan nilai-nilai positif. Menunjukan hal-hal yang baik kepada
mereka. Karena itulah yang akan menentukan bagaimana karakter mereka dimasa depan.
Jika yang selalu kita tunjukkan kepada mereka adalah bagaimana saling berkasih
sayang maka begitulah mereka nanti memperlakukan orang lain.
Sebaliknya, jika yang selalu mereka saksikan adalah pertengkarang, instruksi
berupa teriakan bukan bimbingan, kemarahan bukan kedamaian, maka itu pula yang
akan tertanan dalam diri mereka. Mereka akan tumbuh menjadi anak nakal yang
menyusahkan orang tua dan orang-orang yang akan berinteraksi dengannya nanti.
Karakter merupakan warisan yang mereka terima dari orang-orang yang
terlibat dalam pendidikan mereka. Orang tua, paman, bibi, nenek, kakek, sepupu.
Jika anak-anak mulai berintaksi dengan orang lain dan mengambil contoh yang
buruk dari mereka maka rumah adalah madrasah utama untuk meluruskan semua hal
tersebut.
Dan terakhir, "I love you too, Aisya". Terimakasih atas kecupan dan pelukannya. Akan membekas sebagai cinta dalam babak mengenang kenangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar