Jumat, 20 Januari 2017

NYAWA YANG HILANG




Jauh perjalanan ini terkadang  mempersaksikan hutan lumut yang angker dengan suara sunyi yang mencekam.  Pula kadang mengalir damai bersama bunyi percikan dari dalam sungai. Kadang menyengat membakar tak berperih. Kadang berembun dan membawa kesejukan. Inilah sebuah lika liku untuk mengajarkan arti perjalanan.
Waktu antara detak jantung kali pertama hingga hembusan nafas hari ini adalah waktu yang telah terpaut jauh. Kemudian dunia memperkenalkan bukan hanya belahan kasih ibu, tapi juga tumpah darah antar sesama. Entah apa yang mereka perebutkan. Entah apa yang mereka ributkan. Hingga yang membuat Nabi Muhammad saw merasa udara di Makkah seperti racun yang menyesakkan. Adalah racun yang tak bisa lagi dihirup. Hingga membuatnya pergi jauh ke Gua Hira menikmati kesenyapan.
Berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Tapi ini masih tentang kesenyapan. Telah lama tak mendengar suara ramah sapaan dalam perjumpaan. Yang telah lama buta dari wajah berseri dari seorang kawan. Itu dia kematian yang sejak lama. Dimana jiwa kehilangan nyawa. Hanya meninggalkan raga yang bernafas. 
Kadang berpikir bahwa dunia ini adalah sebuah hutan tropis yang lebat oleh jutaan pohon pilihan hidup. Sering terjebak dalam kondisi dimana hanya diberi satu pilihan karena tahu bahwa tak mampu memilih yang lain atau itu bukan pilihan yang baik. Berkali-kali didera kecewa yang menyakitkan. Hingga duduk terdiam lama dalam tafakkur. Bahwa ada yang tidak mengecewakan, yakni hening dalam doa, sabar dan dzikir. Bahwa mengikuti ambisi untuk apa? Jika itu karena dalih ingin mengejar kebahagiaan. Maka itu salah!! Kebahagiaan tidak pasti ada dalam hal-hal besar yang ada dalam angan. Tapi ada dalam hal-hal kecil disekitar yang sering diabaikan.
Seperti hari ini, dimana play list satu persatu mulai terhapus dan terganti dengan riuh kicauan pipit di pagi hari, kesetian menanti hujan datang, kedamaian mengantar senja, keheningan bersama doa-doa, menikmati segelas es kelapa yang nangkring di tepi jalan atau merogoh kocek 5.000 untuk mendapatkan sebungkus es krim atau es teh menanti waktu berbuka puasa. Begitulah hari-hari bahagia itu terlalui. Menjaga jarak kebisingan. Dan bersenyap ria dengan hembusan angin dari samudra di dermaga. Tak perlu banyak orang untuk bahagia. Cukup diri sendiri belajar cara untuk bahagia.
Bukan egois atau apatis. Hanya saja jika ada yang hadir hanya membuyarkan senyap. Maka biarkan dia dengan bahagianya. Bukan salah siapa siapa jika menjauh. Tapi senyap terlalu berharga untuk dia rebut. Nanti ketika dia telah belajar berbicara dengan hati. Maka berkariblah kembali. Karena dunia senyap adalah tentang mereka yang hanya saling memberi isyarat untuk mengerti.
Inilah nyawa itu. Tat kala raga berada dibawa senja, berada di ujung dermaga, berada di bilik yang tak terdengar apa- apa selain detingan jam dinding. Kembali bernyawa dalam nafas tasbih. Secercah  cahaya mulai menuntun kemana kaki harus dibawa. Nyawa kembali hadir untuk membawa raga sampai ke titik akhir. Hingga perpisahan sesungguhnya diiringi oleh malaikat Izrail dan isak tangis orang terkasih.

#masih tentang sunyi
#Sidrap, 20 January 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar