Jauh perjalanan ini terkadang
mempersaksikan hutan lumut yang angker dengan suara sunyi yang
mencekam. Pula kadang mengalir damai bersama
bunyi percikan dari dalam sungai. Kadang menyengat membakar tak berperih. Kadang
berembun dan membawa kesejukan. Inilah sebuah lika liku untuk mengajarkan arti
perjalanan.
Waktu antara detak jantung kali pertama hingga hembusan nafas hari
ini adalah waktu yang telah terpaut jauh. Kemudian dunia memperkenalkan bukan
hanya belahan kasih ibu, tapi juga tumpah darah antar sesama. Entah apa yang
mereka perebutkan. Entah apa yang mereka ributkan. Hingga yang membuat Nabi
Muhammad saw merasa udara di Makkah seperti racun yang menyesakkan. Adalah
racun yang tak bisa lagi dihirup. Hingga membuatnya pergi jauh ke Gua Hira
menikmati kesenyapan.
Berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Tapi ini masih tentang
kesenyapan. Telah lama tak mendengar suara ramah sapaan dalam perjumpaan. Yang
telah lama buta dari wajah berseri dari seorang kawan. Itu dia kematian yang
sejak lama. Dimana jiwa kehilangan nyawa. Hanya meninggalkan raga yang
bernafas.
Kadang berpikir bahwa dunia ini adalah sebuah hutan tropis yang
lebat oleh jutaan pohon pilihan hidup. Sering terjebak dalam kondisi dimana hanya
diberi satu pilihan karena tahu bahwa tak mampu memilih yang lain atau itu
bukan pilihan yang baik. Berkali-kali didera kecewa yang menyakitkan. Hingga duduk
terdiam lama dalam tafakkur. Bahwa ada yang tidak mengecewakan, yakni hening
dalam doa, sabar dan dzikir. Bahwa mengikuti ambisi untuk apa? Jika itu karena
dalih ingin mengejar kebahagiaan. Maka itu salah!! Kebahagiaan tidak pasti ada
dalam hal-hal besar yang ada dalam angan. Tapi ada dalam hal-hal kecil
disekitar yang sering diabaikan.
Seperti hari ini, dimana play list satu persatu mulai terhapus dan
terganti dengan riuh kicauan pipit di pagi hari, kesetian menanti hujan datang,
kedamaian mengantar senja, keheningan bersama doa-doa, menikmati segelas es
kelapa yang nangkring di tepi jalan atau merogoh kocek 5.000 untuk mendapatkan
sebungkus es krim atau es teh menanti waktu berbuka puasa. Begitulah hari-hari
bahagia itu terlalui. Menjaga jarak kebisingan. Dan bersenyap ria dengan
hembusan angin dari samudra di dermaga. Tak perlu banyak orang untuk bahagia. Cukup diri
sendiri belajar cara untuk bahagia.
Bukan egois atau apatis. Hanya saja jika ada yang hadir hanya
membuyarkan senyap. Maka biarkan dia dengan bahagianya. Bukan salah siapa siapa
jika menjauh. Tapi senyap terlalu berharga untuk dia rebut. Nanti ketika dia
telah belajar berbicara dengan hati. Maka berkariblah kembali. Karena dunia
senyap adalah tentang mereka yang hanya saling memberi isyarat untuk mengerti.
Inilah nyawa itu. Tat kala raga berada dibawa senja, berada di
ujung dermaga, berada di bilik yang tak terdengar apa- apa selain detingan jam
dinding. Kembali bernyawa dalam nafas tasbih. Secercah cahaya mulai menuntun kemana kaki harus dibawa. Nyawa kembali hadir untuk membawa raga sampai ke titik akhir. Hingga perpisahan sesungguhnya diiringi oleh malaikat Izrail dan isak tangis orang terkasih.
#masih
tentang sunyi
#Sidrap,
20 January 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar