Sabtu, 14 Januari 2017

MAKASSAR DALAM ANGAN




Usia SMA adalah usia dimana mimpi melihat dunia dimulai. Usia menyalanya ambisi kompetisi. Merasa tidak rela jika teman memiliki nilai yang tinggi, tidak rela jika yang lain memiliki argumentasi yang lebih berbobot, merasa inferior dengan mereka yang dikenal guru karena juara kelas, semua ingin jika mendapat kampus dan jurusan bergengsi di kota mentereng.
2008 Makassar merupakan satu kota studi yang sangat diimpikan anak SMA di Mamuju Utara. Sebuah kabupaten baru terbentuk. Yang masih tergolong kabupaten terbelakang. 2008 akses infomasi masih cukup sulit. Informasi tentang kota tujuan pendidikan masih minim. Apalagi mereka yang orang tuanya tidak pernah memiliki pengalaman sekolah hingga ke perguruan tinggi. Maka makassar adalah kota yang sangat jauh bagi sebagian orang, tempat yang sangat asing, tujuan pendidikan yang membutuhkan tekad besar untuk sampai disana. Itulah mengapa anak lulusan SMAN 1 Pasangkayu sebagian besarnya memilih berkuliah di Palu, Sulawei Tengah.
Ingin berkuliah di kota besar, dimotivasi oleh berbagai hal yang umumnya diinginkan anak baru gede pada umumnya. Yang mereka baru ingin mengenal dunia. Yang memiliki cita-cita untuk keliling dunia. Ingin memenuhi hasrat petualang dalam dirinya. Merasa bosan dengan lingkungan mereka sejak kecil. Tidak terkecuali dengan ku sendiri.
Orang tua menawarkan untuk berkuliah di Palu, Sulawesi Tengah yang hanya butuh waktu empat jam untuk sampai. Tapi entah, tidak memiliki niat untuk kesana. Full keinginan ingin ke Makassar, yang jarak tempuhnya berkisar 22 jam. Tak berpikir banyak tentang pameo orang-orang “ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri”. Ini karena selain dari kecenderungan ABG lainnya, ada hal lain yang tidak membelokkan niat ku. Yakni belajar agama.
Seseorang yang telah banyak mengajarkan ku tentang Islam lah yang banyak menggambarkan tentang kondisi Makassar. Bahwa disana banyak tempat pengajian untuk menuntut ilmu. Sedangkan citra palu cukup buruk. Orang yang kuliah disana banyak yang jadi perempuan panggilan, menjadi anak-anak nakal dan berbagai citra buruk lainnya. Itulah yang membesarkan tekad untuk tetap berangkat.
Akhirnya, Makassar tak jauh dari apa yang ada dalam angan. Memanfaatkan waktu untuk belajar di berbagai tempat, memanfaatkan perpustakaan mengkaji banyak hal. Hingga tak hanya ilmu, tapi juga tempat untuk mendewasakan diri. Hingga kembali pada realitas yang menyelami dunia bersama ilmu yang pernah dituntut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar