Diusia tertentu pertanyaan yang menyakitkan, yang kadang
merenggangkan hubungan silaturahim adalah “kepan menikah?”. Diwaktu itu
orang-orang mulai menghitung-hitung teman-teman seusianya atau seangkatannya
yang sudah dan yang belum menikah. Antara mereka saling memperhatikan
perkembangan nasib hidup yang mereka jalani. Ada yang beberapa lama tidak
bertemu sudah memposting foto keluarganya dengan satu atau dua anak. Teriris hati,
tertampar, tersudutkan, terbebani dengan berbagai pikiran-pikiran buruk tentang
“perawan tua”.
Dengan status jomblo terasa ruang gerak dalam interaksi sosial
menjadi terbatasi. Takut memikirkan tentang bagaimana pandangan orang. Merasa kebaikan
Tuhan tidak sampai pada diri. Merasa bernasib buruk diantara yang lain. Yang mana tidak bisa merasakan rengekan anak meminta
beli permen, belum bisa merasakan dibelikan martabak oleh suami di tengah
malam, belum bisa merasakan melihat permintaan maaf suami ketika sedang marah. Bayangan-bayangan
tentang kebahagiaan dalam binaan keluarga terus menghantui.
Inilah satu fase kehidupan yang harus dialami oleh banyak orang. Yang
mana ketika bertemu orang itu adalah pertanyaan utama. Pulang kampung, orang
tua dan kelurga sering mengeluarkan sindiran. Nenek terus memonitor pria yang
sedang mencari jodoh. Tante kesana kemari mencari tahu bacaan untuk cepat menemukan
jodoh dari orang-orang yang dianggap pintar di kampung tersebut. Tetangga,
sepupu, teman sekolah topik perbincangannya sudah seputar anak dan ekonomi
keluarga.
Kemudian bagaimana orang yang bersangkutan, yang sedang mengalami
hal tersebut? Yaaa tentu bermacam-macam, tergantung bagaimana mereka mengatasi
hal ini. Ada yang mulai berpenampilan lebih modis karena menurutnya itulah yang
akan mempercepat jodohnya. Ada yang terang-terangan menyatakan sudah siap untuk
menikah. Ada yang sering memposting hal-hal seputar jodoh untuk menghibur diri
atau memblok anggapan-anggapan orang. Dan ada yang tetap bersikap biasa-biasa
saja.
Golongan yang terakhir ini yang ingin sedikit diulas disini. Bahwa
jika jomblo adalah masih menjadi status. Yang bukan kita sengaja memilihnya. Tapi
memang takdir yang kita jalani masih sebatas itu. Maka mengapa harus dijadikan
beban yang berat. Pernikahan bukan hanya tetang kebahagiaan saja. Tapi juga
banyak deraan kesulitan di dalamnya. Pernikahan tidak berarti masa ujian sudah
berakhir. Padahal kan, masa ujian berakhir itu adalah diwaktu ajal kematian
menjemput. Bukan ketika ijab kabul terucap. Masih berstatus singel adalah
ujian, juga ketika sudah menikah. Ada kesulitan hidup yang harus dijalani
ketika masih sendiri juga ada kesulitan hidup yang harus dilalui ketika bersama
pasangan.
Hidup ini terhitung sejak lahir hingga mati. Bukan terhitung sejak
lahir hingga menikah. Maka entahkah belum menikah atau sudah menikah status
sebagai hamba Allah SWT harus tetap jalan: yakni diciptakan hanya untuk
beribadah (az-zariat: 54), kesempatan hidup hingga mati untuk diuji siapa yang
paling baik amalannya (al-mulk: 2). Dan amalan yang baik itu bukan hanya
mengurus keluarga. Tapi bekerja, berinfak, belajar, sholat malam, puasa, aktif
jadi relawan sosial, berdakwa juga adalah amalan yang baik. Dan itu bisa
dilakukan meski belum menikah. Beginilah cara kita menikmati kesendirian.
Sembari menikmati sejuknya udara pagi, indahnya kaki langit berhias
senja, meminum secangkir teh dibawah perecikan hujan, bacaan buku-buku dalam
alunan sunyi, tangisan dalam tasbih saat tahajjud, kesejukan hati oleh untaian
ayat-ayat sicu dan tarian jemari diantara uraian kata dalam catatan harian. Kata
orang “santai mi! Dunia ji ini!”
#Sidrap, 19
Januari 2016
#Tetap setia
dengan sunyi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar