Rabu, 18 Januari 2017

STATUS JONES YANG DINIKMATI



Diusia tertentu pertanyaan yang menyakitkan, yang kadang merenggangkan hubungan silaturahim adalah “kepan menikah?”. Diwaktu itu orang-orang mulai menghitung-hitung teman-teman seusianya atau seangkatannya yang sudah dan yang belum menikah. Antara mereka saling memperhatikan perkembangan nasib hidup yang mereka jalani. Ada yang beberapa lama tidak bertemu sudah memposting foto keluarganya dengan satu atau dua anak. Teriris hati, tertampar, tersudutkan, terbebani dengan berbagai pikiran-pikiran buruk tentang “perawan tua”.
Dengan status jomblo terasa ruang gerak dalam interaksi sosial menjadi terbatasi. Takut memikirkan tentang bagaimana pandangan orang. Merasa kebaikan Tuhan tidak sampai pada diri. Merasa bernasib buruk diantara yang lain.  Yang mana tidak bisa merasakan rengekan anak meminta beli permen, belum bisa merasakan dibelikan martabak oleh suami di tengah malam, belum bisa merasakan melihat permintaan maaf suami ketika sedang marah. Bayangan-bayangan tentang kebahagiaan dalam binaan keluarga terus menghantui.
Inilah satu fase kehidupan yang harus dialami oleh banyak orang. Yang mana ketika bertemu orang itu adalah pertanyaan utama. Pulang kampung, orang tua dan kelurga sering mengeluarkan sindiran. Nenek terus memonitor pria yang sedang mencari jodoh. Tante kesana kemari mencari tahu bacaan untuk cepat menemukan jodoh dari orang-orang yang dianggap pintar di kampung tersebut. Tetangga, sepupu, teman sekolah topik perbincangannya sudah seputar anak dan ekonomi keluarga.
Kemudian bagaimana orang yang bersangkutan, yang sedang mengalami hal tersebut? Yaaa tentu bermacam-macam, tergantung bagaimana mereka mengatasi hal ini. Ada yang mulai berpenampilan lebih modis karena menurutnya itulah yang akan mempercepat jodohnya. Ada yang terang-terangan menyatakan sudah siap untuk menikah. Ada yang sering memposting hal-hal seputar jodoh untuk menghibur diri atau memblok anggapan-anggapan orang. Dan ada yang tetap bersikap biasa-biasa saja.
Golongan yang terakhir ini yang ingin sedikit diulas disini. Bahwa jika jomblo adalah masih menjadi status. Yang bukan kita sengaja memilihnya. Tapi memang takdir yang kita jalani masih sebatas itu. Maka mengapa harus dijadikan beban yang berat. Pernikahan bukan hanya tetang kebahagiaan saja. Tapi juga banyak deraan kesulitan di dalamnya. Pernikahan tidak berarti masa ujian sudah berakhir. Padahal kan, masa ujian berakhir itu adalah diwaktu ajal kematian menjemput. Bukan ketika ijab kabul terucap. Masih berstatus singel adalah ujian, juga ketika sudah menikah. Ada kesulitan hidup yang harus dijalani ketika masih sendiri juga ada kesulitan hidup yang harus dilalui ketika bersama pasangan.
Hidup ini terhitung sejak lahir hingga mati. Bukan terhitung sejak lahir hingga menikah. Maka entahkah belum menikah atau sudah menikah status sebagai hamba Allah SWT harus tetap jalan: yakni diciptakan hanya untuk beribadah (az-zariat: 54), kesempatan hidup hingga mati untuk diuji siapa yang paling baik amalannya (al-mulk: 2). Dan amalan yang baik itu bukan hanya mengurus keluarga. Tapi bekerja, berinfak, belajar, sholat malam, puasa, aktif jadi relawan sosial, berdakwa juga adalah amalan yang baik. Dan itu bisa dilakukan meski belum menikah. Beginilah cara kita menikmati kesendirian.
Sembari menikmati sejuknya udara pagi, indahnya kaki langit berhias senja, meminum secangkir teh dibawah perecikan hujan, bacaan buku-buku dalam alunan sunyi, tangisan dalam tasbih saat tahajjud, kesejukan hati oleh untaian ayat-ayat sicu dan tarian jemari diantara uraian kata dalam catatan harian. Kata orang “santai mi! Dunia ji ini!”

#Sidrap, 19 Januari 2016
#Tetap setia dengan sunyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar