| AGUSTUS 2014, MENJELANG MUSCAB IMM MAKASSAR |
Tak
ada yang abadi, termasuk kebersamaan. Seperti air kadang bersatu diatas aliran
sungai, kadang bersatu dalam segelas air, kadang berpisah dalam tetesan-tetesan
embun atau kadang berpisah dalam gelembung didihan. Manusia ada yang
dipersatukan oleh ikatan keluarga, dipersatukan dalam satu komunitas bermain,
terikat dalam satu tujuan perjuangan dakwah. Telah menjadi sebuah kepastian
akan berpisah diwaktu tertentu. Itu hanya akan menunggu waktu, cepat atau
lambat.
Maka
akan kau kenang mereka sebagai teman sepermainan diwaktu kecil, teman sekolah,
teman kampus, satu komunitas dakwah. Antara mereka ada ikatan, merasa dekat
antara satu dengan yang lain, ada kepedulian di dalamnya. Kemudian ketika tiba
waktu berpisah, ada kesedihan yang merambat pada diri setiap yang tertambat
dalam ikatan.
Ada
diantara kita ini adalah yang kesekian kalinya mengalami hari perpisahan. Dan selalu
perpisahan itu menyedihkan. Pada itu ada yang berkata “mungkin suatu hari
ketika bertemu akan berkata; dimana saya pernah melihat orang ini” pula ada
yang mengatakan “hari ini seperti sebuah sore dimana dedaunan basah oleh embun sebagai
isyarat bumi segera akan berpisah dengan mentari”. Terenyuh, menambah sesak
ketidak relaan akan perpisahan. Terlebih, terbayang perpisahan ini akan merubah
banyak hal dari kebersamaan yang kurang lebih 12 bulan itu.
Meski
begitu, perpisahan tidak sekajap penghapus segalanya. Tetap akan ada yang
tersisah dalam pengabadian; kebersamaan yang terekam waktu 2013-2014, gambar-gambar
yang terpajang di wall facebook dan tulisan yang terurai oleh kenangan ataukah
refleksi. Bahwa kita pernah dalam satu barisan dakwah. Pernah saling mengatahui
kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pernah memberi sumbangsi entah itu
besar atau kecil. Dan utamanya, satu babak kehidupan bagi diri pribadi yang
menentukan perubahan baik buruknya diri.
Akan
ada yang jadi insinyur, dokter, guru, pengusaha. Masing-masing akan berjuang
menjalani masa-masa ujian selama hidup. Kebersamaan ini hanya satu lembaran
cerita diantara ratusan atau ribuan yang lain. Hingga menghadap pada Sang Ilahi
mempertanggujawabkannya masing-masing. Dengan penuh harapan sedikit memiliki
jawaban atas pertanyaan di ujung perjalanan hidup “kau gunakan untuk apa masa
muda mu?”
#Agustus, 2014
#Dakwah story
Tidak ada komentar:
Posting Komentar