Jika setiap orang ingin mencatat atau menuliskan semua yang mereka
lakukan di hari itu, atau menjawab pertanyaan di facebook “apa yang anda
lakukan?” maka setiap detik akan ada saja hal yang ingin mereka tuliskan. Mereka
akan menulis; masih ngantuk, lagi santai, sedang rindu, mengingat si dia,
bersemangat, lagi ingin mandi, lagi menikmati secangkir teh, merasa hampa. Dan
berbagai hal yang mereka rasakan, yang mereka pikirkan, yang mereka lakukan,
yang akan mereka lakukan. Menuliskan semua itu, ingin orang lain tau, atau
sekedar ingin meluapkan dan mengeluarkannya dari diri.
Ada orang, hari ini semua waktu sudah terisi dengan akitivitas
fisik. Yang secara otomatis akan menyibukkan pikiran untuk memikirkan apa yang
sedang dikaerjakan. Mungkin sedang mengerjan penyuksesan acara seminar, atau
mereka sedang kerepotan dengan anak balitanya yang mulai sangat aktif, atau
mereka sedang sibuk menyemai tanama cabainya dari gulma.
Sedangkan ketika sendiri tanpa interaksi dengan kehidupan sosial
maka akan berbeda ceritanya. Yang terjadi tak ada teman yang bisa diajak
bicara. Terkadang tangan tidak terkontrol untuk mengangkat handphone ingin
berkomunikasi dengan dia. Ada rasa ingin terus berbincang dengannya. Tapi kemudian
terhalang oleh sebuah etika. Dimana komunikasi tidak boleh dilakukan untuk
menjaga hubungan yang baik antara keduanya. Agar percakapan tidak menyebabkan
persinggungan di dunia nyata. Mungkin berupa hubungan berpacaran dalam waktu
lama tapi tetap saja tidak bisa terwujud dalam hubungan pernikahan.
Ini mungkin yang bisa disebut sebagai “kekosongan”. Ketika guncangan-guncangan
rasa dan kekalutan pikiran hanya berjalan ditempat tanpa ada ruang untuk
mengalirkannya. Maka dari itu ruang tulis adalah tempat teraman untuk
menyalurkannya. Berdiam di tempat menuangkan dalam rangkaian kata. Merapikan
kenangan, menyusun ide, mengingat ilmu, mengatur emosi, akhirnya bukan lagi
kekosongan. Tapi mengisi diri dengan refleksi tentang hidup.
Satu penemuan baru, mengapa Allah SWT bersumpah dengan pena dan apa
yang dituliskannya (al-qolam: 1). Bahwa ruang tulis bukan ruang yang mati. Tapi
ruang dimana ada kehidupan di dalamnya. Dimana kita bisa berinteraksi dengan
berbagai dimensi kehidupan dengan tulisan. Sehingga kekosongan bukan lagi
kekosongan tapi waktu untuk beinteraksi dengan dimensi lain selain dimensi
sosial. Yang bisa jadi lebih aman dari interaksi dengan cara berinteraksi yang
lain. Dengan ini bisa hubungan kita dengan manusia yang lain bisa lebih
terarah. Termasuk hungan asmara. Dimana tak perlu banyak waktu untuk
berangan-angan yang belum tentu akan terjadi. Dengan ini bisa lebih mengenali
perasaan kita. Bahwa sebenarnya bahagia tidak harus mengalami ketergantungan
yang kuat pada seseorang tersebut.
Berakhir bahagia. Kekosongan tak selalu merupakan sebuah kesedihan,
sesuatu yang membosankan, tapi salah satu cara untuk lebih mengenali diri.
Waktu untuk mengatur spasi spasi kehidupan kita. Agar tidak terjadi kesesakan
yang menekan nafas kebahagiaan. Mengajarkan diri bahwa ada banyak cara untuk
bahagia di setiap detik waktu yang Tuhan anugrahkan.
#menghibur diri
#Sidrap, 18 Januari 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar