Selasa, 17 Januari 2017

MENULISKAN KEKOSONGAN



Jika setiap orang ingin mencatat atau menuliskan semua yang mereka lakukan di hari itu, atau menjawab pertanyaan di facebook “apa yang anda lakukan?” maka setiap detik akan ada saja hal yang ingin mereka tuliskan. Mereka akan menulis; masih ngantuk, lagi santai, sedang rindu, mengingat si dia, bersemangat, lagi ingin mandi, lagi menikmati secangkir teh, merasa hampa. Dan berbagai hal yang mereka rasakan, yang mereka pikirkan, yang mereka lakukan, yang akan mereka lakukan. Menuliskan semua itu, ingin orang lain tau, atau sekedar ingin meluapkan dan mengeluarkannya dari diri.
Ada orang, hari ini semua waktu sudah terisi dengan akitivitas fisik. Yang secara otomatis akan menyibukkan pikiran untuk memikirkan apa yang sedang dikaerjakan. Mungkin sedang mengerjan penyuksesan acara seminar, atau mereka sedang kerepotan dengan anak balitanya yang mulai sangat aktif, atau mereka sedang sibuk menyemai tanama cabainya dari gulma.
Sedangkan ketika sendiri tanpa interaksi dengan kehidupan sosial maka akan berbeda ceritanya. Yang terjadi tak ada teman yang bisa diajak bicara. Terkadang tangan tidak terkontrol untuk mengangkat handphone ingin berkomunikasi dengan dia. Ada rasa ingin terus berbincang dengannya. Tapi kemudian terhalang oleh sebuah etika. Dimana komunikasi tidak boleh dilakukan untuk menjaga hubungan yang baik antara keduanya. Agar percakapan tidak menyebabkan persinggungan di dunia nyata. Mungkin berupa hubungan berpacaran dalam waktu lama tapi tetap saja tidak bisa terwujud dalam hubungan pernikahan.
Ini mungkin yang bisa disebut sebagai “kekosongan”. Ketika guncangan-guncangan rasa dan kekalutan pikiran hanya berjalan ditempat tanpa ada ruang untuk mengalirkannya. Maka dari itu ruang tulis adalah tempat teraman untuk menyalurkannya. Berdiam di tempat menuangkan dalam rangkaian kata. Merapikan kenangan, menyusun ide, mengingat ilmu, mengatur emosi, akhirnya bukan lagi kekosongan. Tapi mengisi diri dengan refleksi tentang hidup.
Satu penemuan baru, mengapa Allah SWT bersumpah dengan pena dan apa yang dituliskannya (al-qolam: 1). Bahwa ruang tulis bukan ruang yang mati. Tapi ruang dimana ada kehidupan di dalamnya. Dimana kita bisa berinteraksi dengan berbagai dimensi kehidupan dengan tulisan. Sehingga kekosongan bukan lagi kekosongan tapi waktu untuk beinteraksi dengan dimensi lain selain dimensi sosial. Yang bisa jadi lebih aman dari interaksi dengan cara berinteraksi yang lain. Dengan ini bisa hubungan kita dengan manusia yang lain bisa lebih terarah. Termasuk hungan asmara. Dimana tak perlu banyak waktu untuk berangan-angan yang belum tentu akan terjadi. Dengan ini bisa lebih mengenali perasaan kita. Bahwa sebenarnya bahagia tidak harus mengalami ketergantungan yang kuat pada seseorang tersebut.  
Berakhir bahagia. Kekosongan tak selalu merupakan sebuah kesedihan, sesuatu yang membosankan, tapi salah satu cara untuk lebih mengenali diri. Waktu untuk mengatur spasi spasi kehidupan kita. Agar tidak terjadi kesesakan yang menekan nafas kebahagiaan. Mengajarkan diri bahwa ada banyak cara untuk bahagia di setiap detik waktu yang Tuhan anugrahkan.

#menghibur diri
#Sidrap, 18 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar