Sabtu, 14 Januari 2017

BERSEJUK RIA DENGAN PAGI



Diantara kita pagi, ini adalah pagi yang ke puhan ribu kali bisa membuka mata diwaktu fajar. Terbangun menyambung kisah yang kemarin ataukah memulai cerita baru yang membahagiakan. Hari ini ada niat untuk melakukan puluhan daftar keinginan yang telah tertulis dihari yang lalu. Atau mungkin ada hal baru yang sedang ingin kita lakukan. Entah!! Tapi sebelum itu, semua orang memiliki caranya sendiri untuk mengawali hari.
Bagaimana memaknai hidup begitulah dia akan memulai hari. Dimasa sekolah tak ada yang terpikir kecuali bagaimana bangun tidak kesiangan agar tidak terlambat sampai sekolah. Masa kuliah mulai berubah dengan menyusun agenda harian. Tambah kesini, ketika perenungan tentang hidup telah menguasai jiwa. Maka pagi menjadi termaknai sebagai waktu bersejuk ria dengan alam. Berpikir banyak tentang masa lalu, semesta, Tuhan dan diri yang rapuh tanpa Allah SWT. Dzikir pagi di mulai!!
Hari berganti hari, telah jauh perjalanan ini ditempuh. Kadang dipagi hari sangat bersegera menyambut mentari, menatapnya dengan bibir ceringis yang baru saja menyingsing di balik bukit, karena hari ini sedang ingin bertemu si dia yang telah lama dinanti. Pula kadang menyambutnya dengan wajah suram karena harus menemui pagi yang sama. Yang hanya menyisakan benci dan amarah pada diri.
Ada pagi dimana ingin hujan turun mengantar pagi. Mengalirkan kesedihan bersama tetasan tetesan hujan dari langit. Itulah dia, biarkan demikian, cukup malam melelapkan mu, menyimpannya sebagai bunga tidur.  Akan kemana jika hari tak ingin dihadapi. Mereka yang akan mengantar mu ke masa tua, sampai kau menanti kematian sambil bercerita pada cucu mu, bahwa "jika hidup seperti sedang berlayar maka bersiaplah nak, Tuhan tak ingin kau melaluinya tanpa berjuang melawan keganasan ombak, kejenuhan menanti garis pantai yang tak kunjung terlihat, rasa takut tak mampu selamat jikalau badai tiba-tiba menghalau"
Sejuk pagi sebuah anugrah yang mesti disyukuri. Yang entah esok akankah dapat menjumpai pagi yang sama. Entahkah dapat lagi merasakan nafas embun mengelus lembut ubun-ubun. Jika kau merasa penat, merasa hidup ini suram, kau sedih karena belum bisa melepas rindu mu pada ibu, bapak, kakak dan adik mu. Bangunlah di pagi hari menyambut datangnya mentari, menghirup udara yang masih jernih dan biarkan tasbih mu menyampaikan rindu itu melalui do’a. 

#merekam kenangan
# 27 February
#2016-2017
#Sidrap, tanah Nene Mallomo
#tanah ogi wanuakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar